Wednesday, February 20, 2013

Penganggaran modal atau capital budgeting



Penganggaran modal atau capital budgeting ialah rencana kerja keuangan jangka panjang pada suatu proyek investasi. Misalnya penganggaran modal (investasi) pembelian kapal, mendirikan pabrik baru, mendirikan perusahaan baru, dan lain-lain. Karena waktunya panjang, maka risikonya tinggi. Oleh sebab itu, para perencana investasi jangka panjang harus mampu memprediksi pendapatan dan biaya di masa depan.

Kerangka Berpikir Penganggaran Modal
Para perencana penganggaran modal harus memprediksi lima aspek, yaitu :
1)       Pangsa pasar
2)       Nilai investasi dan sumber pembiayaan
3)       Biaya modal rata-rata tertimbang
4)       Arus kas masuk bersih (net cash inflow)
5)       Kelayakan proyek investasi

 

Pangsa Pasar

Pangsa pasar yang akan dikuasai, ini berkaitan dengan ramalan pendapatan di masa yang akan datang yang penuh ketidakpastian. Artinya berisiko besar karena ketidakpastian tersebut. Para perencana harus yakin bahwa di masa mendatang pendapatan dapat diperkirakan mendekati kenyataan. Meramal kondisi pasar adalah sulit sekali, karena pasar ditentukan oleh situasi bisnis, situasi ekonomi dan situasi politik.

Jika kondisi politik buruk, berdampak kondisi ekonomi buruk, dan akibatnya kondisi bisnis buruk dan sebaliknya. Bidang pasar ini harus dianalisis oleh beberapa ahli politik, ahli ekonomi dan ahli bisnis. Di samping itu, kondisi pasar juga ditentukan oleh kekuatan permintaan dan penawaran. Kondisi yang demikian itu di luar kontrol manajemen perusahaan. Para ahli perencana investasi hanya bisa meramal berdasar data internal dan eksternal yang tersedia.

 

Nilai Investasi dan Sumber Pembiayaan

Jika pangsa pasar yakin bisa diketahui dan bisa dikuasai, maka selanjutnya merencanakan investasi jangka panjang dalam bentuk unit bisnis atau penggantian peralatan, atau produk baru, yang dinyatakan dalam bentuk satuan uang, misalnya Rupiah atau Dollar (Rp 1.000 atau Rp 1.000 juga atau Rp 1.000 milyar). Setelah nilai investasi ditetapkan kemudian disusun sumber pembiayaan, dari modal sendiri atau dari utang.

 

Menghitung Biaya Modal

Setiap modal menanggung biaya. Modal sendiri biayanya adalah hasil yang diharapkan oleh pemilik, sedangkan modal dari utang biayanya adalah bunga. Kedua biaya tersebut harus dihitung yang lazim disebut biaya rata-rata tertimbang, yang akan menjadi tingkat diskon (discount rate) terhadap arus kas masuk bersih investasi (net cash inflow). Formula net cash inflow yaitu :
1)       EBDIT (1 – T) + T. Dep
2)       EBIT (1 – T) + Dep
3)       EAT + Dep + Interest (1 – T)


Di mana :
EBDIT        :       Earning Before Depreciation, Interest and Tax (laba sebelum penyusutan, bunga dan pajak)
T                 :       Tax, pajak perseroan (badan usaha)
Dep            :       Depreciation(penyusutan) dari harta tetap
EBIT           :       Earning Before Interest and Tax (laba sebelum bunga dan pajak)
EAT            :       Earning After Tax (laba bersih setelah pajak)
Interest       :       Bunga pinjaman, jika investasi menggunakan utang

Kelayakan Proyek Investasi

Setelah arus kas masuk bersih diketahui kemudian dihitung layak atau tidaknya proyek investasi, dengan cara :
a.       Nilai Tunai Bersih (Net Present Value atau NPV)
Membandingkan nilai tunai arus kas masuk bersih dengan nilai tunai pengeluaran modal untuk investasi. Jika NPV positif, proyek layak, artinya bisa dilaksanakan.
b.       Tingkat Hasil Internal (Internal Rate of Return atau IRR)
Mencari discount rate yang dapat menyamakan besarnya nilai tunai arus kas bersih proyek dengan nilai tunai pengeluaran untuk investasi. Jika IRR lebih besar daripada biaya modal rata-rata tertimbang, maka proyek layak.
c.        Indek Profitabilitas (Profitability Index atau PI)
Membagi jumlah nilai tunai arus kas bersih proyek dengan nilai tunai pengeluaran modal untuk investasi. Jika indeknya di atas satu, proyek layak.
d.       Tingkat Hasil Akuntansi (Accounting Rate of Return atau ARR)
Membagi rata-rata laba bersih dengan nilai tunai pengeluaran modal untuk investasi. Jika besarnya ARR lebih besar daripada biaya modal, maka proyek layak.
e.       Lamanya Kembali Modal (Payback Periode atau PP)
Lamanya kembali modal, yaitu nilai investasi sama dengan nilai tunai arus kas masuk bersih dalam beberapa tahun. Pada umumnya perencana investasi menentukan payback periode dalam tahun tertentu, misalnya 4 tahun.


Praktik Penganggaran Modal
Untuk memudahkan memahami teknik berpikir dan praktik penganggaran modal di bawah ini disajikan contoh praktis. Misalnya PT ABC merencanakan investasi dengan nilai investasi Rp 1.000, umur proyek 5 tahun. Proyek dibiayai oleh modal sendiri Rp 200 dan sisanya dibiayai oleh utang, dengan pembayaran kembali cicilan dan bunga secara anuitas. Biaya modal sendiri 24% dan biaya utang 20%, pajak perseroan 50%.

Investasi tersebut dialokasikan ke modal kerja Rp 300 dan sisanya dialokasikan ke harta tetap dengan penyusutan angka tahun yang makin menurun (sum of year digit methode), dengan nilai sisa harta tetap Rp 150 dan modal kerja ditemukan kembali pada akhir umur proyek. Estimasi pendapatan dan biaya operasi tunai per kas adalah sebagai berikut :

Tahun
Pendapatan
Biaya Operasi
1
Rp
1.200
Rp
800
2
Rp
1.400
Rp
950
3
Rp
1.250
Rp
1.100
4
Rp
1.400
Rp
1.100
5
Rp
1.200
Rp
900

Berdasarkan data di atas, dapat dihitung : Net Present Value, Internal Rate of Return, Accounting Rate of Return, Profitability Index, Payback Period dengan langkah-langkah sebagai berikut :

 

1.      Langkah Pertama : Menghitung Beban Penyusutan

Menghitung beban penyusutan harta tetap, nilai Rp 700, sisa Rp 150, harta tetap yang disusut Rp 550, selama lima tahun dengan model sum of year digit method. Jumlah angkat ahun = 1 + 2 + 3 + 4 + 5 = 15.
Tahun 1     =                          5/15 x 550     =              183
Tahun 2     =                          4/15 x 550     =              147
Tahun 3     =                          3/15 x 550     =              110
Tahun 4     =                          2/15 x 550     =              73
Tahun 5     =                          1/15 x 550     =              37

2.       Langkah Kedua : Menghitung Beban Bunga

Skedul Pembayaran Bunga dan Angsuran
Besarnya anuitas, bunga 20% per tahun, pinjaman Rp 800.
(Rp 800 / (PVIFA, 20%, 5 tahun) = (Rp 200 / 2,990) = Rp 267,56 dibulatkan Rp 268.

Tahun

Pinjaman

Annuitas

Bunga 20%
Angsuran
1
800
268
160
108
2
692
568
138
130
3
562
268
112
456
4
406
268
81
187
5
219
268
*49
219
Jumlah

1.340
540
800

* Pembulatan pembayaran bunga.

3.      Langkah Ketiga : Menghitung Arus Kas Masuk Bersih


Proyeksi Arus Kas Masuk Bersih (Net Cash Inflow)

Keterangan (tahun)

Tahun 1

Tahun 2

Tahun 3
Tahun 4
Tahun 5
Pendapatan
1.200
1.400
1.250
1.400
1.200
Biaya operasi per kas
800
950
1.100
1.100
900
EBDIT
400
450
150
300
300
Depresiasi (SOYDM)
183
147
110
73
37
EBIT
217
303
40
227
263
Bunga
160
138
112
81
49
EBT
57
165
-72
146
214
Tax 40%
-23
-66
*+29
-58
-86
Earning After Tax (EAT)
34
99
-43
88
128






Net Cash Inflow
313
329
134
209
195
-  EBDIT (1 – T) + Tdep





-  EBIT (1 – T) + Dep





-  EAT + Dep + Interest(1 – T)





Nilai sisa harta tetap




150
Modal kerja akhir proyek




300
Total Net Cash Inflow (NCI)
313
329
134
209
645

* Catatan :     Pada tahun ke 3, perusahaan rugi, maka pajaknya dihitung positif (+), artinya jumlah tersebut dapat dikurangkan pembayaran pajak tahun-tahun yang memperoleh laba.

4.      Langkah Keempat : Menghitung Biaya Modal

Biaya modal : 0,20 (1-0,4) (0,8) + 0,24 (0,2) = 0,1440 (14,40%), sebagai tingkat diskon atau discount rate (DR) untuk menghitung nilai sekarang dari hasil investasi (arus kas masuk bersih).

 

5.      Langkah Kelima : Menghitung NPV

Menghitung Net Present Value (NPV)

Tahun
Arus Kas Masuk Bersih
Diskon Faktor
(Biaya Modal 14,4%)
Nilai Tunai
1
313
*0,874
274
2
329
0,764
251
3
134
0,668
90
4
209
0,584
122
5
645
0,510
329

Total nilai tunai arus kas masuk bersih
1.066

Total investasi awal periode
1.000

Nilai tunai bersih (Net Present Value)
66

Kesimpulan :
Proyek layak berdasarkan NPV, karena positif Rp 66.

2.      Langkah Keenam : Menghitung IRR

Menghitung Internal Rate of Return.
Mencari NPV negatif pada discount rate tertentu, misalnya 20%.

Tahun
Arus Kas Masuk Bersih
Diskon Faktor
(Biaya Modal 20%)
Nilai Tunai
1
313
*0,833
261
2
329
0,694
228
3
134
0,579
76
4
209
0,482
101
5
645
0,402
259

Total nilai tunai arus kas masuk bersih
923

Total investasi awal periode
1.000

Nilai tunai bersih (Net Present Value)
(77)

* 1/(1+0,20)1   1/(1+0,20)2    1/(1+0,20)3     1/(1+0,20)4   1/(1+0,20)5
Internal Rate of Return (IRR)
1)       IRR adalah titik impas investasi, di mana nilai tunai kas masuk bersih sama dengan nilai tunai investasi. Oleh sebab itu, harus dicari discount rate yang dapat menyamakan nilai tunai arus kas masuk bersih dengan nilai tunai investasi melalui trial dan error.
2)       Tahap perhitungannya adalah bahwa jika nilai tunai bersih (Net Present Value) dari arus.Kas masuk bersih positif, maka harus menghitung arus kas masuk bersih dengan didskontokan persentase tertentu agar diperoleh NPV negatif. Kemudian dengan menggunakan model seperti diatas yaitu dengan discount 20% , sehingga memperoleh NPV negatif Rp 77.
3)       Nilai tunai arus kas bersih dengan discount rate yang mempunyai NPV positif dibandingkan dengan nilai tunai arus kas masuk bersih yang mempunyai NPV negatif, hasilnya sebagai penyebut dalam menghitung IRR. Proses perhitungannya sbb:
4)       IRR
               

Tingkat

Diskon
NPV Tingkat
Diskon Rendah
Selisih Nilai
Tunai
14,40%
1.066
1.066
20,00%
1.000
923
5,60%
66
143

IRR
14,40% + (66/143)(5,60%) = 14,40% + 2,5844% = 16,9844%. Dibulatkan 16,98%. Setelah IRR diketahui, maka dibuktikan bahwa nilai tunai arus kas masuk bersih sama dengan nilai tunai investasi sbb :

3.      Langkah Ketujuh : Pembuktian IRR

skedul IRR
pembuktian bahwa pada IRR 16,98% , terjadi titik impas investasi yaitu besarnya nilai tunai arus kas masuk bersih sama dengan nilai investasi pada awal periode.

Tahun
Arus kas
Masuk Bersih
IRR
16,98%
Nilai
Tunai
1
313
*0,855
268
2
329
0,731
240
3
134
0,625
84
4
209
0,534
112
5
645
0,456
294
Nilai tunai arus kas masuk bersih
Nilai tunai Investasi
Nilai tunai (Net Present Value=NPV)
**998
1.000
2

*              1/(1+0,1698)1       1/(1+0,1698)2           1/(1+0,1698)3           1/(1+0,1698)4           1/(1+0,1698)5
**             Mestinya Rp 1.000, hal itu terjadi karena pembulatan IRR dari 16,9844% menjadi 16,98%.

4.      Langkah Kedelapan : Menghitung Profitability Index

Profitability Index (PI)
1.85/1,000=1,085X, layak karena diatas satu.

5.      Langkah Kesembilan : Menghitung Accounting Rate of Return


Accounting Rate of Return (ARR) adalah rata” laba bersih dibaagi nilai investasi.
[(34+99+(-101)+88+128)/5] / 1.000 = 0,0496, kurang layak karena dibawah biaya modal 14,40%.

6.      Langkah Kesepuluh : Menghitung PayBack Periode

PayBack Period
1.       313+329+134+209=985, kira” 4 tahun lebih sedikit, untuk mencapai Rp 1.000
2.       jika manajemen menginginkan payback period 3tahun, maka peroyek tersenut tidak layak.

2 comments:

  1. artikel menarik.. untuk menghemat waktu mencari irr npv dengan fleksibel cash flow bisa download software tvms 1.0 yang ada di www.amibsoft.com caranya cari gambar tvms 1.0 disebelah kiri lalu klik gambarnya

    ReplyDelete
  2. I’m Артур Борис a resident/citizen of the Republic Of Russian. I’m 42 years of age, an entrepreneur/businessman. I once had difficulties in financing my project/business, if not for a good friend of mine who introduced me to Mr Pedro to get a loan worth $250,000 USD from his company. When I contacted them it took just five working days to get my loan process done and transferred to my account. Even with a bad credit history, they still offer their service to you. They also offer all kinds of loans such as business loans, home loans, personal loans, car loans. I don’t know how to thank them for what they have done for me but God will reward them according to his riches in glory. If you need an urgent financial assistance contact them today via email  pedroloanss@gmail.com 

    ReplyDelete